Senin, 13 Desember 2010

Pesantren Salaf A.P.I ( Asrama Perguruan Islam ) Tegalrejo Magelang Indonesia



GAMBARAN UMUM
PONDOK PESANTREN ASRAMA PERGURUAN ISLAM


1. Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam

Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejodidirikan pada tanggal 15 September 1944  oleh KH. Chudlori yaitu seorang ulama yang juga berasal dari desa Tegalrejo. Beliau adalah menantu dari KH.Dalhar pengasuh Pondok Pesantren ”Darus Salam” Watucongol Muntilan Magelang. KH. Chudlori mendirikan Pondok Pesantren di  Tegalrejo pada awalnya tanpa memberikan nama sebagaimana layaknya Pondok Pesantren yang lain. Baru setelah berkalai-kali beliau mendapatkan saran dan usulan dari rekan seperjuangannya pada tahun 1947 di tetapkanlah nama Asrama Perguruan Islam (API). Nama ini  ditentukannya sendiri yang tentunya merupakan hasil dari sholat Istikharoh. Dengan lahirnya nama Asrama Perguruan Islam, beliau berharap agar  para santrinya kelak di masyarakat mampu dan mau menjadi guruyang mengajarkan dan mengembangkan syariat-syariat Islam.

Adapun yang melatar belakangi berdirinya Asrama Perguruan Islam adalah adanya semangat jihad ”I’Lai kalimatillah” yang mengkristal dalam jiwa sang pendiri itu sendiri. Dimana kondisi masyarakat Tegalrejo pada waktu itu masih banyak yang bergelumuran dengan perbuatan-perbuatan syirik dan anti pati dengan tata nilai sosial yang Islami. Respon Masyarakat 35 Tegalrejo atas didirikannya Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo pada waktu itu sangat memprihatinkan. Karena pada saat itu masyarakat masih kental dengan aliran kejawen. Tidak jarang mereka melakukan hal-hal yang negatif yang mengakibatkan berhentinya kegiatan ta’lim wa-taa’llum (kegiatan belajar-mengajar). Sebagai seorang ulama yang telah digembleng jiwanya bertahun-tahun di berbagai pesantren, KH. Chudlori tetap tegar dalam menghadapi dan menangani segala hambatan dan tantangn yang datang.

Berkat ketegaran dan keuletan KH. Chudlori dalam upayanya mewujudkan Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam baik secara dhohir maupun batin. Santri yang pada awal berdirinya hanya berjumlah delapan, tiga tahun kemudian sudah mencapai sekitar 100-an. Prestasi ini jika di identikan dengan prestasi para pendiri pondok pesantren dalam era kemajuan
ini, barang kali biasa-biasa saja. Akan tetapi kalau melihat situasi serta kondisi serta sistem sosial yang berlaku pada saat itu sungguh prestasi KH.Chudlori merupakan prestasi yang lebih.
Aksi negatif masyarakat seputar setelah tiga tahun API berdiri semakin mereda, bahkan diantara mereka yang semula anti pati ada yang berbalik total menjadi simpati dan ikhlas menjadi pendukung setia dengan mengorbankan segala dana dan daya  yang ada demi suksesnya perjuangan KH. Chudhori. Akan tetapi di luar dugaan dan perhitungan pada awal tahun 1948 secara mendadak API diserbu Belanda tepat pada “Kles II”. Gedung atau fisik API yang sudah ada pada waktu itu diporak porandakan. Sejumlah 36 kitab termasuk Kitab milik KH. Chudhori dibakar hangus, sementara santrisantri termasuk KH.Chudhori mengungsi  kesuatu desa yang bernama Tejo kecamatan Candimulyo. Kegiatan taklim wa-taalum nyaris terhenti.

Pada penghujung tahun 1949 dimana situasi nampak aman KH.Chudhori kembali mengadakan kegiatan taklim wa-taalum kepada masyarakat sekitar dan santripun mulai berdatangan terutama yang telah mendengar informasi bahwa situasi di Tegalrejo sudah normal kembali, sehingga KH.Chudhori mulai mendirikan kembali API lagi di temapt semula. Semenjak itulah API berkembang pesat seakan bebas dari hambatan, sehingga mulai tahun 1977 jumlah santri sudah mencapai sekitar 1500-an. Inilah puncak prestasi KH.Chudhori di dalam membawa API ke permukaan umat.

Adalah merupakan suratan taqdir,  dimana pada saat API sedang berkembang pesat dan melambung  ke atas, KH.Chudhori dipanggil kerahmatullah (wafat), sehingga kegiatan taklim wataalum terpaksa diambil alih oleh putra sulungnya (KH. Abdurrohman Ch) dibantu oleh putra
Keduanya (Bp. Achmad Muhammad Ch). Peristiwa yang mengaharukan ini terjadi pada penghujung tahun 1977. Sudah menjadi hal yang wajar bahwa apabila disuatu pondok pesantren terjadi pergantian pengasuh, grafik jumlah santri menurun. Demikina juga API pada awal periode KH. Abdurrohman Ch jumlah santri menurun drastis, sehingga pada tahun 1980 tinggal sekitar 760-an. Akan tetapi nampak keuletan dan kegigihan KH.Chudhori telah diwariskan kepada KH. Abdurrohman Ch, sehingga jumlah santri bias kembali meningkat sampai pada tahun 1922 menurut catatan sekretaris mencapai 2698 santri.

Disini perlu dimaklumi oleh pembaca bahwa dari awal berdirinya hingga sekarang, API hanya menerima  santri putra. Meskipun usulan dan saran dari berbagai kalangan saling berdatangan, namun belum pernah terpikirkan secara serius untuk mendirikan pondok pesantren putri hingga
sekarang. Hal ini dapat dimaklumi karena faktor sarana dan prasarananya kurang mendukung terutama persediaan air bersih dan tanah lokasi.

2. Dasar Pemikiran dan Tujuan berdirinya Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo

a. Dasar Pemikiran

Sebagai lembaga pendidikan Islam, Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam tentu mempunyai dasar-dasar yang konkrit baik dari AlQuran maupun dari hadits Nabi  sebagai mana pondok-pondok pesantren pada umumnya, antara lain :

1) Al-Qur’an surat At-Taubat: 122, artinya adalah: Tidak sepatutnya bagi orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Maka hendaklah pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereke thoifah (sekelompok manusia untuk memperdalam ilmu agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya bila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka dapat menjaga dirinya. 

2) Al-Qur’an surat Al-Mujadallah:II,  artinya adalah: Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu ”berlapang-lapanglah dalam majlis” maka lapangkanlah, niscaya Alloh akan memberikan kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan  ”berdirilah” , maka berdirilah niscaya Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa drajat. Dan Alloh maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

3) Hadits Nabi yang artinya adalah: Barang siapa yang mengadakan inisiatif yang bagus dalam agama Islam, niscaya akan memperoleh pahala dari orang yang mengamalkan sepeninggalannya tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkan sedikitpun. Barang siapa yang mengadakan inisiatif yang buruk maka ia akan menanggung dosanya dan menanggung dosanya orang yang mengamalkan tanpa mengurangi sedikitpun (HR. Muslim dan yang lainnya.

4) Hadits Nabi yang artinya adalah: Apabila anak adam mati, maka putuslah amalnya kecuali tiga perkara:Shodaqoh jariyah, Ilmu yang manfaat, dan anak yang sholeh yang mau mendoakan kepada Kedua orang tuanya (HR. Muslim)

Demikian antar lain nash-nash atau landasan-landasan yang dijadikan sebagai dasar pemikiran mendirikan Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam.

b. Tujuan berdirinya Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam

Adapun tujuan didirikanya API sebagai pondok pesantren salaf terdiri dari tujuan umum dan khusus.
Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Tujuan Umum
a. Berupaya mewujudkan manusia-manusia muslim yang bertaqwa kepada Alloh Swt.
b. Berupaya mewujudkan manusia-manusia muslim yang mengetahui dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam ‘ala ahlisunnah wal-jama’ah.

2. Tujuan khusus 
Berupaya mencetak kader-kader Ulama yang mempunyai kedalaman ilmu agama seta gigih  dan ulet berjuang menegakan kalimah Alloh ikhlas tanpa mengharapkan imbalan jasa yang bersifat duniawi.

3. Kepemimpinan dan Managemen Pondok Pesantren Asrama PerguruanIslam.

Sudah menjadi pola umum, bahwa proses berdirinya sebuah pondok pesantren itu berpangkal semata-mata  kepada Kyai yang menjadi pengasuh dan pemimpinnya. Biasanya sang Kyai membangun pondok pesantren dengan kekayaan sendiri sehingga sarana fisik di pesantren tidak lain menjadi milikinya sendiri.

Ketika sang Kyai memperluas tanah pesantren yang akan digunakan untuk bangunan-bangunan yang diperlukannya, biasanya ia membeli tanah milik penduduk disekitarnya. Banyak juga penduduk yang dengan sukarela menyerahkan tanahnya kepada Kyai sebagai waqaf untuk keperluan pembangunan pesantren. Disisi lain sumbangan dalam bentuk dana banyak mengalir dari berbagai lapisan masyarakat ketika pesantren sedang merehap atau memperbaiki bangunan fisik. Namun demikian hak milik pondok pesantren tetap dimiliki oleh Kyai, dimana pada saat Kyai itu wafat maka hak milik pondok pesantren serta kepemimpinannya diturunkan kepada putranya.

Hal ini merupakan cirri khas pondok pesantren pada umumnya. Pondok Pesantren API yang merupakan pesantren salaf yang didirikan oleh KH. Chudlori tidak jauh beda, dimana setelah KH. Chudlori wafat pada tahun 1977 hak milik dan kepemimpinannya juga berpindah kepada putranya. Dengan melihat kenyataan semacam ini maka segala sesuatunya yang ada dalam API menjadi tanggungjawab dan beban sang Kyai baik mengenai pendidikan, ketertiban, keamanan  maupun yang lainnya. Namun demikian sebagai manusia sang Kyai mempunyai  sifat keterbatasan kemampuan di dalam menangani apa yang menjadi beban dan tanggungjawabnya.

Sehubungan dengan ini maka dibentuklah lembaga kepengurusan yang berfungsi sebagai tangan kanan. Lembaga kepengurusan API mungkin ada perbedaannya dengan pondok-pondok pesantren lain yang ada mayoritasnya lembaga kepengurusan hanya berfungsi sebagai pelaksana ide dari sang Kyai. Tidak demikian halnya dengan kepengurusan API Tegalrejo  yang tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana ide dari sang Kyai, tetapi juga diberi wewenang yang luas dan dituntut untuk kreatif  memunculkan ide-ide baru yang membawa kearah
kemajuan API. Luasnya wewenang untuk mengeluarkan ide tidak luas yang tanpa batas, akan tetapi dibatasi dengan kode etik yang telah ditentukan. Hal ini terbukti bahwa setiap ide-ide pengurus yang telah dibulatkan dalam rapat senantiasa dihormati oleh Kyai. Disamping itu ide-ide Kyai yang dilontarkan kepada pengurus pada umumnya bersifat suatu masukan yang harus di agendakan, bukan semata-mata merupakan  instruksi absolute. Bukan ide-ide Kyai tersebut jika setelah dirapatkan tidak mendapatkan kata sepakat karena adnya alasan-alasan yang konkrit dan objektif, beliaupun menghormatinya.

Adapun struktur organisasi  API Pondok Pesantren Tegalrejo adalah sebagai berikut :

a) Pengasuh/ Kyai.

Kedudukan pengasuh/Kyai dalam API Pondok Pesantren Tegalrejo yang sekarang dipegang oleh KH.Abdurrochman yang merupakan putra dari pendiri API adalah:
a. Sebagai pimpinan tertinggi.
b. Sebagai Mu’allim pokok yang bertugas mengajar dan membina para santrinya.
c. Sebagai figure ulama yang dijadikan sebagai “uswatun khasanah” oleh para santrinya dan mastarakat pada umumnya. 
d. Sebagai Da’i yang mengajak para santrinya dan sekalian umat pada umumnya untuk sadar mempelajari, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam ala Ahlisunnah wal jama’ah secara kafah.

b) Pengurus 

Komponen kepengurusan API terdiri dari:pengasuh, penasihat, kepala pondok, sekretaris, seksi-seksi dan anggota.Pengasuh dalam Pondok Pesantren API merupakan pimpinan yang sekaligus sebagai penanggungjawab. Penasihat merupakan pengurus yang bertugas memberi nasihat kepada kepala pondok di dalam menjalankan tugasnya serta menangani setiap persoalan  yang ada. Kepala pondok bertugas sebagai pimpinan dan penggerak roda  organisasi. Sekretaris bertindak sebagai satuan penunjang yang membantu tugas pimpinan dalam ketatausahaan. Bendahara bertugas  sebagai satuan penunjang yang membantu tugas pimpinan dalam bidang keuangan. Sedangkan seksiseksi, bertugas sebagai satuan operasional yang membantu pimpinan baik dalam bidang pendidikan, keamanan, perlengkapan, usaha-usaha dan kegiatan-kegiatan lainnya yang dibutuhkan.

Kepengurusan Pondok Pesantren  Asrama Perguruan Islam ditetapkan bukan oleh pengasuh, akan tetapi ditentukan lewat rapat pleno yang diadakan pada setiap bulan  “Syawal” sekitar tanggal 25. Anggota siding terdiri dari pengurus pusat dan pengurus kompleks. Dengan diadakannya siding pleno dalam rangka reformasi kepengurusan pada setiap bulan syawal, maka sudah barang tentu bahwa masa bakti pengurus Pondok Pesantren Asrama Perguruan  Islam hanya satu tahun terhitung dari tanggal 1 dzulqo’dah setiap tahunnya. Yang berhak menjadi pengurus adalah santri Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam yang sudah  menamatkan jenjang belajarnya. Sedangkan bagi mereka yang masih  dalam dalam jenjang belajar, meskipun memiliki potensi tidaklah berhak untuk diangkat menjadi pengurus, karena lebih ditekankan untuk menekuni pelajaran yang sedang dihadapi. Kecuali kepengurusan kompleks dan hal ini terbatas pada seksiseksi yang tugasnya tidak terlalu berat serta tidak mengganggu kegiatan belajarnya.

4. Fasilitas dan Sumber Dana Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo

a. Fasilitas di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam 

Fasilitas yang dimiliki Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo sekarang ini meliputi:
1) Asrama santri terdiri dari kompleks “A” sampai “I” berlantai dua dengan jumlah kamar 88 kamar.
2) Gedung belajar berlantai dua degan jumlah 88 kamar.
3) Mushola tempat jama’ah santri sekaligus sebagai  tempat mengajar oleh Kyai.
4) Gedung pertemuan wali murid atau pendopo.
5) Ruang kantor yang terletak di tengah-tengah gedung belajar.
6) Bak air wudlu berukuran 8 X 12 m. 44
7) Gedung tempat tamu yang dilengkapi dengan WC dan kamar mandi.
8) Ruang dapur dengan ukuran 8 X 12.
9) Kolam besar sebelah selatan API kurang lebih berukuran 400 M untuk tempat mandi para santri yang dilengkapi WC 6 kamar.
10) WC untuk para santri sebelah selatan API berukuran 250 meter persegi terdiri dari 31 kamar.
11) Tempat ziarah santri di makam Al-Marhum KH.Chudhori sebelah selatan API dengan ukuran 240 meter persegi lengkap dengan tempat wudlunya.
12) Ruang perpustakaan dan tempat diskusi para Qori (guru).
13) Ruang peralatan pengeras suara dan listrik.
14) Bangunan sumber air bersih di desa Wonosuko (4 km dari API).
15) Bangunan tempat penampungan air bersih.
16) Ruang kesehatan santri.
17) Koperasi klontong, kitab dan beras.
18) Pesawat telephon satu buah yang dipasang pada tahun 1955.
19) Peralatan alat belajar dan mengajar lengkap.

Semua fasilitas yang dimiliki API, merupakan hasil usaha dan swadaya santri hanya sebagian kecil saja yang merupakan sumbangan dari luar dan itu berasal dari para alumni dan dermawan dan simpatisan. Perlu diketahui bahwa API sejak periode KH.Chudhori sampai periode KH. Abdurrohman belum pernah menerima sumbangan dari pemerintah dalam bentuk apapun. Alasannya sederhana saja yakni “tidak ingin merepotkan pemerintah”.

b. Sumber dana Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam 

Sistem pengembalian dana bagi API Tegalrejo memang berbeda dengan pondok-pondok pesantren lain, apalagi dengan lembaga pendidikan formal, baik tentang uang pendaftaran maupun yang lainnya.

Mengenai pendaftaran dalam API terdapat istilah pendaftaran ulang, baik untuk santri yang baru berdiam dua tahun maupun yang sudah belasan tahun. Bahkan mereka yang telah diangkat menjadi pengurus maupun qori (guru) juga terkena kewajiban itu.  Demikian juga halnya tentang uang gedung.

Secara lebih rinci mengenai sumber dana dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Pendaftaran

Besar kecilnya dana pendaftaran bagi santri baru ditetapkan dalam rapat bulanan terakhir tahun sebelumnya. Adapun bagi santri lama 70% dan pengurus ataupun qori 40% dari besar uang pendaftaran santri baru. Uang hasil pendaftaran ini digunakan untuk kebutuhan sekretaris baik yang bersifat harian, bulanan ataupun tahunan.

Batas akhir pendaftaran siswa lama tanggal 1 Dzulqo’dah. Apabila terlambat dari ketentuan  tersebut, maka harus sowan almukarram dengan membawa surat ta’liq dari dewan qori’in. Batas ta’liq pada tanggal 1 dzulqo’dah dan apabila melebihi batas waktu
tersebut, maka tidak dapat diterima pada tingkatan berikutnya.

a) Uang Pendaftaran 

• Santri baru Rp 4.500
• Santri lama Rp 3.500
• Pengurus Rp 2.000

b) Uang KTA (Kartu Tanda Anggota)

• Santri baru Rp 5.000
• Santri lama Rp 3.500

2) Uang gedung 

Uang gedung bagi API Sjuga diadakan pungutan ulang setaip tahunnya. Adapun besar kecilnya pungutan ditentukan pada rapat akhir tahun sebelumnya sebagaimana pendaftaran. Bagi santri
lama dan pengurus atau qori besar pungutan 50% dari besar pengutan santri baru. Uang ini digunakan  untuk merehap atau membangun sarana fisik yang dibutuhkan sesuai dengan rencana. Secara rinci uang Pembangunan setiap santri adalah sebagai berikut :

• Santri baru 20.000
• Santri lama 10.000
• 2 santri baru 30.000 
• 2 santri lama 15.000
• 2 santri baru & 1 santri lama 45.000
• 1 santri baru & 2 santri lama 35.000

3) Syahriyah (Iuran bulanan)

Uang bulanan di Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo terdiri dari iuran bulanan kamar, kompleks dan pusat. Besar dan kecilnya uang iuran bulanan kamar dan kompleks diserahkan penuh kepada kebijaksanaan pengurusnya masing-masing. Namun demikian pengurus pusat tetap mengawasi agar jangan sampai terjadi pungutan syahriyyah yang tidak sesuai dengan kebutuhan yang ada. Adapun untuk pondok pusat ditentukan pada  awal tahun setelah menyusun rencana anggaran belanja. Untuk pengurus pusat, dibebaskan dari pungutan syahriyyah pondok pusat. Sedangkan pungutan syahriyyah kamar atau kompleks, tinggal kebijaksanaan pengurusnya masingmasing. Uang syahriyyah ini digunakan untuk kebutuhan harian dari setiap seksi yang ada.

4) Penjualan kalender Asrama Perguruan Islam.

Setiap tahunnya API mengeluarkan kalender sebanyak 15.000 eksplar. Kalender ini diedarkan melalui santri-santri di daerahnya masing-masing, hal ini bertujuan untuk mengenalkan API kepada masyarakat juga untuk menambah inkam. Hasil penjualan kalender ini digunakan untuk dana pembangunan di pondok API.

5) Sumbangan alumni dan simpatisan 

Sumbangn alumni dan simpatisan bias dikatakan sangatlah minim. Hal ini terjadi karena memang dari pengurus API tidak pernah mengadakan pungutan infaq, kecuali jika kebetulan sedang menggarap proyek pembangunan yang  memakan biaya yang besar.

Dari lima sumber dana ini berakat rakmat Alloh SWT API dapat merehap dan membangun fisiknya dengan lancer. Model bangunannya terbilang tidak ketinggalan zaman. Uang Pembangunan

• Santri baru 20.000
• Santri lama 10.000
• 2 santri baru 30.000
• 2 santri lama 15.000
• 2 santri baru & 1 santri lama 45.000
• 1 santri baru & 2 santri lama 35.000


KURIKULUM PENDIDIKAN DI PONDOK PESANTREN ASRAMA PERGURUAN ISLAM

A. Sistem Pengajaran di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam

1. Sistem Pendidikan

Secara umum tujuan pendidikan di Pondok Pesantren adalahmenciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan, berakhlak mulia dan menjadi pelayan masyarakat  sebagaimana kepribadian nabi Muhammad SAW, mampu berdiri  sendiri, bebas dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakan Islam dan kejayaan umat Islam di tengah-tengah masyarakat. Pesantren memandang bahwa kunci sukses dalam hidup adalah moral agama, yang dalam hal ini adalah perilaku keagamaan yang memandang semua kegiatan kehidupan seharihari sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan.Mengamati dari dekat perilaku santri, jelas bahwa pendidikan di  Pondok Pesantren di pusatkan pada pendalaman dan penghayatan agama, lengkap dengan pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal yang berhubungan dengan duniawi terasa agak tersisih. Santri cenderung berperilaku sakral dan lebih menekankan pada perilaku yang idealis normatif menurut ramburambuhukumagama (Fiqih) dari pada perilaku yang realistis matrealis dalam relevansinya dengan pengalaman hidup keduniawian (Mansur, 2004:36).

Dulu, pusat pendidikan Islam adalah langgar masjid atau rumah sang guru, di mana murid-murid duduk di lantai, menghadapi sang guru, dan belajar mengaji. Waktu mengajar biasanya diberikan pada waktu malam hari biar tidak mengganggu pekerjaan orang tua sehari-hari.

Tempat-tempat pendidikan Islam nonformal seperti inilah yang menjadi embrio terbentuknya sistem pendidikan pondok pesantren. Ini berarti bahwa sistem pendidikan pada pondok  pesantren masih hampir sama seperti sistem pendidikan di langgar atau masjid, hanya lebih intensif dan dalam waktu yang lebih lama.

Pendidikan pesantren memiliki dua sistem pengajaran, yaitu sistem sorogan, yang sering disebut  sistem individual, dan sistem bandongan atau wetonan yang sering disebut kolektif. Dengan cara sistem sorogan tersebut, setiap murid mendapat kesempatan untuk belajar secara langsung dari Kyai atau pembantu Kyai. Sistem ini biasanya diberikan dalam pengajian kepada murid-murid yang telah menguasai pembacaan QurĂ¡n dan kenyataan merupakan bagian yang paling sulit sebab sistem ini menuntut kesabaran, kerajinan, ketaatan dan disiplin pribadi dari murid. Murid seharusnya sudah paham tingkat sorogan ini sebelum dapat mengikuti pendidikan selanjutnya di pesantren (Dhofier, 1985:28).

Metode utama sistem pengajaran di lingkungan pesantren ialah sistem bandongan atau wetonan. Dalam sistem ini,  sekelompok murid 51 mendengarkan seorang guru yang membaca, menerjemahkan, dan menerangkan buku-buku Islam dalam bahasa Arab. Kelompok kelas dari sistem bandongan ini disebut halaqah yang artinya sekelompok siswa yang belajar dibawah bimbingan seorang guru. Pesantren sekarang ini dapat dibedakan kepada dua macam, yaitu pesantren tradisional dan pesantren modern. Sistem pendidikan pesantren tradisional sering disebut sistem salafi. Yaitu sistem yang tetap mempertahankan pengajaran kitabkitab Islam klasik sebagai inti pendidikan di pesantren. Pondok pesantren modern merupakan sistem pendidikan yang berusaha mengintegrasikan secara penuh sistem tradisional dan  sistem sekolah formal (wawancara dengan KH. Abdurachman Ch).

Tujuan proses modernisasi pondok pesantren adalah berusaha untuk menyempurnakan sistem pendidikan Islam yang ada di pesantren. Akhir-akhir ini pondok pesantren mempunyai kecenderungankecenderungan baru dalam rangka renovasi terhadap sistem yang selama ini dipergunakan. Perubahan-perubahan yang bisa dilihat di pesantren modern termasuk: mulai akrab dengan metodologi ilmiah modern, lebih terbuka atas perkembangan di luar  dirinya, diversifikasi program dan kegiatan di pesantren makin terbuka dan luas, dan sudah dapat berfungsi sebagai pusat pengembangan masyarakat (Hasbullah, 1999:155).

Mengingat perbedaan tingkat dan jenjang pendidikan di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam, maka dapat diketahui bahwa sistem pengajian yang dipakai di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam adalah sistem klasikal. Sistem ini berlaku untuk semua bidang studi dan tidak terbatas pada bidang-bidang tertentu sebagaimana pondok pesantren
lain. Sistem sorogan (santri membaca, menerjemahkan dan menyimpulkan suatu kitabdihadapan  guru, dimana sang guru bertugas membetulkan apabila terdapat kesalahan) dalam Asrama Perguruan Islam sistem ini tidak digunakan, kecuali dalam kelas shifir dan inipun terbatas dalam juz Amma.

Adapun sistem wetonan di Pondok  Pesantren Asrama Perguruan Islam, merupakan sistem yang difungsikan untuk bidang studi yang bersifat ekstra dan waktunya diluar  jam belajar. Pembacanya terdiri dari qor'i-qori senior dan materinya diserahkan penuh kepada pembaca.
Kembali kepada masalah sistem klasikal, bisa dikatakan cukup memadati waktu siang dan malam.  Untuk siang hari dimulai pukul 07.00–11.00 dan pukul 14.00–16.00. Sedangkan pada malam hari dimulai pukul 20.00–23.00. Akan tetapi perlu dimaklumi, bahwa sistem masuk kelasnya adalah dengan sistem aplus setiap jamnya sesuai dengan aturan main yang telah
ditetapkan.

2. Kurikulum Pendidikan

Santri-santri yang masuk pesantren Asrama Perguruan Islam tetap diterima walaupun kadang-kadang tingkat kelasnya beda. Mayoritas santri masuk pesantren Asrama Perguruan  Islam sesudah lulus dari SD dan mengikuti pelajaran berjenjang mulai kelas satu sampai kelas enam. Tetapi ada juga santri yang masuk  pesantren Asrama Perguruan Islam sesudah lulus dari SMTP. Bagi santri ini, mereka mengikuti jurusan intensif, termasuk kelas satu intensif, kelas tiga intensif, terus kelas lima dan enam biasa. Jurusan intensif tersebut lebih mementingkan pelajaran agama daripada pelajaran umum karena santri yang sudah lulus SMP sudah banyak dapat pelajaran umum tetapi agak ketinggalan dalam bidang ilmu agama. Sesudah santri lulus berijazah  dari kelas enam di pesantren Asrama Perguruan Islam, para santri alumni baru diundang tinggal satu tahun lagi di pondok dan membantu mendidik santri kelas bawah. Pada umumnya, para alumni baru senang menerima undangan tersebut karena itu memberi mereka kesempatan untuk menjadi Ustadah dan dapat pengalaman dalam bidang kerja perguruan.

Ada dua bagian dari kurikulum pondok pesantren Asrama Perguruan Islam, yaitu ilmu agama dan program ekstrakurikuler.

a) Ilmu Agama:

Dalam bagian kurikulum ilmu agama ada dua cara belajarmengajar yang berbeda.
Pertama, sistem modern, yaitu mata pelajaran diajar di dalam ruang kelas oleh seorang guru yang berdiri di depan.
Kedua, lewat sistem tradisional,  yaitu pengajian yang dipimpin oleh Pak Kyai atau kadang-kadang salah  satu Ustad, di dalam musholla sesudah sholat jemaah. Dalam sistem pengajian, penerapan kurikulum diberikan kepada para santri oleh Pak Kyai secara berjenjang sesuai dengan kemampuan para santri. Yaitu pemberian pelajaran dimulai dari kitab-kitab dasar, kemudian menuju ke kitab-kitab tingkat tinggi bila santri sudah memahaminya. Mata pelajaran ilmu agama yang  diajar oleh Pak Kyai, para Ustad dan para Ustadah di dalam ruang kelas termasuk tajwid, tafsir, tauhid, fiqih, usul fiqih, faroid, perbandingan agama, tarikh Islam dan terjemah Al Quran. Untuk kelas tingkat atas,  pelajaran ini diajar dalam bahasa Arab, maka pelajaran bahasa Arab sangat penting. Banyak waktu digunakan di pesantren Asrama Perguruan Islam untuk pelajaran bahasa Arab. Ada sebelas mata pelajaran yang berkaitan
dengan bahasa Arab.

b) Ekstrakurikuler:

Program kegiatan dan pelajaran ekstrakurikuler merupakan bagian penting sekali bagi setiap pranata pendidikan, termasuk pesantren Asrama Perguruan Islam. Di Asrama Perguruan Islam
program ekstrakurikuler dipentingkan karena tujuan Asrama Perguruan Islam adalah untuk membentuk perempuan muslimah yang siap dan mampu menghadapi tantangan di dunia ini. Lewat program ekstrakurikuler tersebut, santri  dapat kesempatan untuk memperluas pengetahuan dan ketrampilannya sesuai dengan keperluaanya untuk tinggal di masyarakat umum. 

Selain dari perannya sebagai bagian pelajaran yang memperluas pengetahuan dan ketrampilan para santri, program ekstrakurikuler juga merupakan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan santai. Kegiatan semacam ini penting sekali dalam perkembangan mental dan fisik  seorang pemuda. Memang sudah banyak penelitian mengenai cara pemuda-pemudi belajar dengan baik dan ternyata tidak cukup bagi para pemuda kalau hanya diberi pelajaran di dalam ruang kelas dengan buku-buku. Yang juga diperlukan adalah pelarajan yang  bisa didapat dari pengalamannya sendiri dan dari kegiatan yang menuntut keterlibatan aktif.

Pada setiap akhir tahun ajaran Asrama Perguruan Islam mengadakan konserbagi para santri. Di konser ini para santri mempunyai kesempatan untuk mempertunjukkan ketrampilan macammacam yang mereka dapat dari kegiatan ekstra kurikulernya. Selama konser tersebut, kegiatan ekstra kurikuler yang dipertunjukkan termasuk kesenian, drama, karaoke dan samroh.

B. Jenjang Pendidikan di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam 

Tingkat dan Jenjang pendidikan di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam adalah sebagai berikut :

1. Tingkat I ( Tahun Pertama )
a) Al-Ajurumiyyah
b) Syafinatunnajah 56
c) Ilmu Tajwid
d) Ilmu Tauhid
e) Fasholatan
f) Tartilul Qur’an

2. Tingkat II (Tahun Kedua)
a) Fathul Qorib
b) Al – Amrithi
c) Al – Amtsilatut Tashrif
d) Qowa’idul I’rob

3. Tingkat III (Tahun Ketiga )
a) Al- Fiyyah Ibnu Malik
b) Al – Minhajul Qowim
4. Tingkat IV (Tahun Keempat)
a) Fathul Wahab
b) Al Jauharul Maknun
c) Fathul Qorib I (Pendalaman)

5. Tingkat V (Tingkat kelima)
a) Al Mahali (IV Jilid)
b) As Sulamul Munauroq (Ilmu Mantiq)
c) ‘Udatul farid (Ilmu faroid)
d) Fathul Qorib II (Pendalaman)

6. Tingkat VI (Tahun Keenam)
a) Shohihul Bukhori (IV Jilid) 57
b) Mushtholahul Hadits
c) Ushul Fiqih
d) Qoidah Fiqhiyyah
e) Fatcul Mu’in (pendalaman)

7. Tingkat VII (tahun Ketujuh)
f) Ichya Ulumuddin IV Jilid (Ilmu Tashawuf)

Persyaratan Masuk Pada Tingkat  (Jenjang Pendidikan) di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam adalah sebagai berikut :

a. Santri Lama  

1. Ibtida’:mampu baca tulis arab
2. Jurumiyyah:hafal matan aljurumiyyah dari bab kalam sampai bab mubtada’-khabar, hafal nadlam tajwid 20 bait
3. Sharaf:hafal al-‘imrithi 150 bait
4. Alfiyah:hafal alfiyah 500 bait
5. Fathul wahab:kitab penuh

b. Santri Baru

1. Ibtida’:baca-tulis arab, hafal pelajaran al mukarram yang telah diajarkan. 
2. Jurumiyyah:hafal matan jurumiyyah dari bab kalam sampai bab mubtada’ khabar, hafal tajwid  ‘hidayah sibyan’ 20 bait, hafal pelajaran al-mukarrom yang telah diajarkan, lulus tes al-quran.
3. Sharaf:hafal ‘imrithi 150 bait, pertanyaan jurumiyyah, hafal pelajaran
almukaram yang telah diajarkan, dan lulus tes al-quran.
4. Alfiyyah:hafal alfiyyah 500 bait.  Pertanyaan pelajaran al-mukaram yang telah diajarkan, pertanyaan pelajaran sharaf.
5. Fathul wahab:hafal jauharul  maknun 75 bait, pertanyaan nahwu sharaf, baca kitab.
6. Almacali:hafal mantiq 50 bait, pertanyaan nahwu, sharaf, jauharul maknun, baca kitab.
7. Bukhari:hafal qawaidul fiqhiyyah 100 bait, pertanyaan nahwu, sharaf, jauharul maknun, mantiq, dan faraidl.
8. Ihya ‘ulumuddin:pertanyaan bebas, baca kitab. 

Persyaratan masuk jenjang ialah melalui test dari seksi pendidikan atau Dewan Qori’in (Deqor) menurut kemampuan/pengetahuan calon santri. adapun umur dan waktu masuk tidak ada batasan. Sistem pendaftaran santri dan masuk pada tingkatan dibedakan.  Artinya mendaftar sebagai santri ditentukan dengan waktu, sedangkan masuk pada tingkatan ditentukan dengan kemampuan calon santri melalui test (dengan ketentuan dan persyaratan yang telah ditentukan). 

Adapun batas akhir waktu pendaftaran sebagai berikut : 

a. Bagi santri nahun (di pondok tiga tahun  tidak pernah pulang) ialah 10 hari dihitung dari waktu pembukaan pengajian Al Mukarrom.
b. Bagi santri lama yang tidak nahun  ialah 10 hari dihitung dari waktu datang di pondok.
c. Bagi santri baru ialah 15 hari dihitung dari waktu datang di pondok. bilamana melampaui batas waktu di atas, maka dinyatakan ghoshob.

Adapun batas akhir masuk tingkatan sebagai berikut : 

a. Untuk masuk pada tingkatan As-Sharaf ke bawah maksimal 10 hari dihitung dari waktu datang di pondok.
b. Untuk masuk pada tingkatan Alfiyyah maksimal 15 hari dihitung dari waktu datang di pondok.
c. Untuk masuk pada tingkatan Fathul Wahab ke atas, maksimal 10 hari dihitung dari waktu datang di pondok.

Bilamana melampaui batas waktu di atas, maka santri tersebut ditetapkan pada tingkatan asal dan bagi siswa baru dikembalikan/disesuaikan dengankemampuannya.  Demikian tingkat dan
jenjang pendidikan di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam yang harus ditempuh oleh para santri. Perlu dipahami bahwa diantara mata pelajaran yang termaktub dalam tingkat dan jenjang diatas ada yang merupakan tambahan setelah periode KH. Abdurachman Ch. Adapun
pelajaran yang dimaksud adalah :

1. Tartilul Qur’an pada tingkat I (satu) ditetapkan pada tahun ajaran 1978-979.
2. Fathul Qorib I (Pendalaman) dan fathul Qorib II (Pendalaman) masingmasing pada tingkat IV dan V yang ditetapkan pada tahun ajaran 1990-1991.
3. Fathul Mu’in (Pendalaman) pada tingkat VI yang ditetapkan pada tahun ajaran1982-1983.

Disamping tingkat dan jenjang diatas, Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam menyediakan kelas persiapan yakni kelas “Shifir” dan kelas “Ibtidaiyyah”. Kelas shifir ditetapkan pada periode KH. Abdurachman Ch tepatnya pada tahun ajaran 1990-1991. Tujuannya adalah untuk menampung santri yang masih but abaca tulis arab dan syariat.

Adapun pelajarannya terdiri dari:baca tulis arab,sorogan juz’ama dan fasholatan. Sedangkan kelas Ibtidaiyyah ditetapkan pada periode KH. Chudlori, tahun ajaran 1975-1976. Tujuannya adalah  untuk menampung para santri yang belum mampu mengikuti pelajaran di tingkat 1 (satu). Mata pelajarannya terdiri dari:Fiqih, Nahwu (pola dasar), Tajwid (pola dasar), fasholatan,
Ta’limul Muta’alim, Khotul jamil, Tachafudz Juz Amma.

C. Aktivitas Santri di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam.

Suasana di pondok pesantren yang hanya menerima santri kalong memang berbeda dari keadaan di pondok  pesantren yang hanya menerima santri mukim, seperti Asrama Perguruan Islam. Ternyata ada banyak manfaat untuk santri-santri kalau wajib berasrama karena suasana di pondok pantas untuk santri yang mau rajin belajar dan juga tidak harus kuatir soal kemananan. Kewajiban berasrama  itu juga memperkuat keakraban masyarakat pondok dan mempermudah tugas Kyai dalam pembinaan dan pendorongan para santrinya.

Aspek-aspek pendidikan pondok pesantren lain yang mempengaruhi santri untuk memilih sistem pendidikan pesantren termasuk: kedisiplinan, yang mendorong santri-santri menjadi lebih terfokus kepada pelajarannya; keamanan, yang rajin dijaga dan sangat penting bagi semua penghuni pondok; dan pelajaran bahasa Arab dan bahasa Inggris. Santri-santri mementingkan pelajaran bahasa Arab untuk mengaji dan memahami ayat-ayat kitab suci.

Pada umumnya, informasi yang peneliti dapat dari studi kasus ini dan kesimpulan yang peneliti ambil didorong oleh kesimpulan yang diambil oleh Dhofier dalam penelitiannya sendiri.  Menurut (Mansur, 2004:28) seorang santri pergi dan menetap di suatu pesantren minimal ada tiga tujuan yang ingin dicapainya yaitu :

a. Ingin mempelajari kitab-kitab lain yang membahas Islam secara lebih mendalam di bawah bimbingan Kyai.
b. Ingin memperoleh pengalaman kehidupan pesantren, baik dalam bidang pengajaran, keorganisasian maupun hubungan dengan pesantrenpesantren yang terkenal;
c. Ingin memusatkan studinya di pesantren tanpa disibukkan oleh kewajiban sehari-hari di rumah keluarganya. 

Secara rinci aktivitas santri dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu :

1. Aktivitas santri didalam Pondok Pesantren 

Budaya yang diciptakan dalam sebuah pondok pesantren memang sangat unik. Setiap pondok memiliki budaya dan suasana yang cukup berbeda walaupun tentu ada banyak kesamaan juga. Budaya ini terutama dibuat dari fakta lingkungan pondok yang sangat terbatas, sifat Kyai dan sifat para santri. Oleh karena lingkungan pondok sangat terbatas dan banyak waktu harus dilewatkan di dalam satu tempat itu, maka harus ada kehormatan dan kesabaran yang tinggi sekali. Santri-santri harus bisa bekerja sama dan saling paham untuk menciptakan suasana yang tenang dan cocok untuk belajar dan beribadah. Tidak ada banyak keragaman bagi para santri dalam kehidupan sehari-hari di pondok pesantren Asrama Perguruan Islam. Jadwal sekolah dan kegiatan-kegiatan sehari-hari tetap, jarang berubah. Jadwal harian santri diatur menurut jam salat karena salat lima kali sehari pada waktu tertentu merupakan kewajiban bagi kaum muslim.

Kegiatan-kegiatan dasar yang memenuhi hari-hari para santri di pesantren Asrama Perguruan Islam  pada umumnya bisa dikelompokkan ke dalam empat bagian, yaitu:

a. kegiatan pribadi, misalnya mandi, mencuci pakaian, membersihkan kamar, makan, membaca, mengobrol dengan teman, dan istirihat; 
b. kegiatan belajar, termasuk waktu belajar di kelas, mengaji di musholla dan mengerjakan PR atau belajar sendiri;
c. kegiatan sembahyang
d. kegiatan ekstrakurikuler, misalnya khitobah (latihan pidato),rebana,albarjajni pada setiap malam jum’at dan lain-lain.

Salah satu aspek kehidupan sehari-hari para santri adalah ketidakperluannya untuk diawasi atau  dikelola oleh para guru atau Pak Kyai. Tentu saja kadang terjadi kasus spesifik di mana Pak Kyai perlu ikut campur, tetapi pada umumnya kedisiplinan para santri di Asrama Perguruan Islam sangat tinggi sehingga peneliti tidak pernah melihat sorang santri diperintah mengerjakan sesuatu yang seharusnya dia sudah kerjakan.

Bahwasanya, ada dua alasan bagi para santri untuk mengelola sendiri kegiatan sehari-harinya. Pertama, peraturan-peraturan pondok dan jadwal sehari-hari yang  sangat ketat berarti santri cuma tinggal ikut kegiatan-kegiatan yang dimasukkan  jadwal untuk hari tertentu. Maka
tidak susah untuk dikelola. 

Aspek lain kehidupan sehari-hari bagi para santri di pesantren Asrama Perguruan Islam adalah kurang banyak keragaman dalam kegiatan yang bisa dilakukan selama waktu istirihat tersebut dan kurang banyak kesempatan untuk bergaul dengan orang dari luar pondok. Maksud peneliti adalah, kalau santri tidak lagi mandi, makan, membersihbersihkan atau sholat, biasanya mereka lagi belajar. Dan kalau tidak ada tamu yang datang ke pondok untuk bertemu dengan para santri selama mereka menetap di pondok, mereka tidak pernah akan bergaul dengan orang selain santri-santri lain, para Ustad dan keluarga Pak Kyai.

Budaya ini peneliti mencoba membandingkan dengan kehidupan sehari-hari pemuda-pemudi di luar pondok pesantren. Di dalam pondok pesantren, kegiatan hiburan bagi santri sangat terbatas. Mereka bisa membaca majalah dan buku yang dibawah dari rumah, mendengarkan musik dan radio, mengobrol dengan temannya atau unuk anak kelas enam, kadang-kadang menonton televisi  di rumah Pak Kyai pada akhir minggu. Dibandingkan dengan pemuda-pemudi yang tinggal di luar pondok pesantren yang menikmati kehidupan yang lebih bebas di  mana ada televisi, mainan komputer, internet, bioskop, museum, tempat wisata seperti taman rekreasi, mall dan kesempatan untuk jalan-jalan. Walaupun kesimpulan peneliti dari observasi  peneliti selama  peneliti tinggal di Asrama Perguruan Islam adalah bahwa kehidupan para santri sangat ketat dan disiplin, memang ada alasan yang relevan demi menjaga kesucian pesantren tersebut.

Secara rinci  aktivitas santri di dalam lingkungan Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam adalah sebagai berikut :

a. Majlis Bachtsul Masail

Majlis ini bertujuan untuk berupaya membina dan menyalurkan potensi santri dalam membahas suatu hukum yang berkaitan dengan problematika sosial.  Pesertanya terdiri dari santri tingkat akhir dan pengurus.

b. Qiro’ah dan Khitobah

Kegiatan ini dilakukan setiap hari jum’at. Pesertanya tidak terikat tingkatannya, dalam arti semua santri termasuk pengurus di perbolehkan mengikuti kegiatan ini. Tujuannya untuk menggali dan membina bakat santri baik mengenai ilmu-ilmu Qiro’ah maupun Khitobah.

c. Organisasi Antar Daerah

Yaitu suatu organisasi yang  dibentuk berdasarkan masingmasing daerah. Tujuannya untuk melatih kedisiplinan dan mengenal seluk beluk keorganisasian  dalam rangka menjalin ukhuwwah Islamiyyah yang maksimal.

d. Mukhadaroh

Kegiatan Mukhadaroh (Pertemuan Santri) diadakan di kompleknya masing-masing setiap dua  jum’at sekali. Kegiatan ini diisi dengan acara semacam ceramah lengkap dengan susunan acaranya. Tujuannya adalah untuk melatih santri agar terbiasa berbicara di hadapan orang banyak.

e. Tadarrus Pagi

Yaitu: Suatu kegiatan dimana santri wajib tadarrus pelajarannya masing-masing sesuai dengan tingkatannya dan diawasi oleh pengurus.Tadarus ini dimulai sehabis sholat shubuh sampai pukul 06.30

f. Tiqror Tachafudz Bersama

Kegiatan ini hanya dilakukan oleh tingkat tertentu yaitu tinggkat dua dengan materinya ”Nadlom Al-Amrithi dan Qowa’idul I’rob” dan tinggkat tiga dengan materinya ”Nadlom Al Fiyyah Ibnu Malik. Waktunya sehabis sholat ashar.

g. Mujahadah Al-Qur’an

Mujahadah Al-Qur’an dilaksanakan setelah sholat magrib sampai masuk sholat isya. Kegiatan  ini wajib diikuti oleh para santri dari tiap tingkatan.

h. Mujahadah Malam

Mujahadah malam dilaksanakan kurang kebih satu jam terhitung dari nishfatul lail. Santri yang diwajibkan mengikuti adalah santri tingkat tiga sampai tingkat akhir.

i. Ziarah ke makam KH. Chudlori. Chudlori

Kegiatan ini merupakan anjuran langsung dari pengasuh, lama ziarah juga telah ditentukan yaitu sekitar 25 menit setiap harinya. Adapun waktunya diserahkan kepada  santri sendiri sesuai dengan waktu senggangnya.

j. Tabungan

Salah satu bentuk kegiatan wajib di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam adalah menabung. Tujuannya adalah untuk mendidik santri agar mempunyai jiwa tadbir dan terhindar dari jiwa tabdir. Kegiata ini dimulai dari bulan Dzul Qo’idah dan ditutup pada akhir
tahun (bulan Sya’ban).

k. Tradisi Ngrowot

Di pesantren API para santri tidak diperbolehkan memasaksayuran atau lauk. Mereka hanya  boleh masak nasi (ngliwet). Sementara sayuran dan lauk-pauknya sudah disediakan oleh 25 warung yang berada di sekitar ponpes yang dikelola masyarakat sekitar yang didapat dengan harga murah. Santri diperboleh membeli nasi di warung, namun jika sering akan diperingatkan, hanya pada saat tertentu (misalnya, karena sakit). 

Tiap malam Jumat santri latihan seni musik (hadrah dan orkesan). Ba'da jumat santri latihan baca seni Al Qur'an (qira'ah). Di Ponpes API santri yang baru masuk diwajibkan nglakoni puasa
ngrowot (tidak boleh makan sesuatu berbahan beras). Yang boleh dimakan sebagai pengganti beras  antara lain jagung, gandum, dan ketela. Lauknya bebas. Kewajiban ini diberlakukan sebagai ciri khas pesntren salafi (hanya mengajarkan ilmu-ilmu dan ajaran-ajaran yang diajarkan oleh ulama terdahulu) yang hanya diberlakukan kepada santri baru.

Sementara bagi mereka yang sudah lama, dihimbau melakukan ngrowot setahun sekali selama 40  hari. Kewajiban yang dibebankan kepada santri ini sebagai upaya melatih santri untuk sabar atau menaham hawa nafsu. Tradisi yang dijalankan di ponpes ini sudah menjadi kebiasaan dan bukan hal  asing di lingkungan ponpes API Tegalrejo. Makan harian diadakan dengan cara jam’iyyah (kelompok). Setiap anggota kamar/kelompok dipungut iuran setara harga jagung/beras 10 kilogram (atau sesuai kesepakatan masing-masing kelompok). Pembayaran kepada seksi jam’iyyah kamar untuk selanjutnya dibelanjakan serta dimasak sesuai jadwal. Lauk-pauk membeli sendiri di kantin-kantin yang ada di sekitar pondok.

2. Aktivitas santri dengan masyarakat lokal

Menurut Prof. Azyumardi Azra (2001:80), santri memainkan peran penting dalam kecenderungan Islamisasi atau re-Islamisasi di kalangan umat Islam Indonesia yang, menurut dia, telah terlihat dalam dua dekade terakhir ini. Proses ‘kebangkitan Islam’ ini diindikasikan oleh bertambahnya jumlah masjid dan tempat ibadah lainnya di Indonesia, pertumbuhan jumlah orang yang pergi haji ke Arab Saudi, dan berdirinya organisasi-organisasi atau lembaga-lembaga Islam baru, seperti Bank Islam dan Asuransi Islam. Istilah  selain dari kebangkitan Islam yang sering dipakai di Indonesia untuk menggambarkan kecenderungan tersebut adalah ‘santrinisasi’. Proses santrinisasi tersebut mulai dengan santri yang mengalami re-Islamisasi selama pendidikannya di pesantren karena proses penanaman ajaran dan praktik-praktik Islam lebih intens di lingkungan sistem pendidikan pesantren daripada sistem pendidikan lain.


Selanjutnya, santri-santri membawa pulang ilmu dan pelajaran yang mereka dapat di pesantren dan menyampaikan kepada keluarga dan orang tuanya. Umumnya orang tua merasa malu akibat ketidaktahuan mereka mengenai ajaran dan praktik Islam tertentu. Akibatnya, agar tidak mengecewakan sang anak, mereka mulai mempelajari Islam.” Salah satu tujuan sistem pendidikan pondok pesantren Asrama Perguruan Islam adalah untuk  menyiapkan para santri untuk kehidupannya dalam masyarakat setelah sudah lulus dari pesantren. Para santri dididik biar memiliki keterampilan kemandirian dan biar mereka menghayati tugasnya dan perannya  menurut ajaran Islam di dalam masyarakat sebagai perempuan, Ibu, isteri, tetangga, pekerja dan seorang alim. Seperti yang sudah ditulis di bagian dahulu, K.H Abdurrahman Khudlori mendirikan pesantren Asrama Perguruan Islam dengan tujuan untuk “mendidik dan mengajar santri agar menjadi manusia yang menegakkan agama Allah dan memberikan berita kepada orang tabligh, mengajar atau paling tidak, menjadi  contoh.” Maka, teori santrinisasi tersebut dipraktikkan di pondok pesantren Asrama Perguruan Islam.
Setiap kali pulang kampung, yaitu dua kali setahun untuk musim libur, santri-santri membawa ilmu barunya ke rumah dan tentu omong sama orang tuanya, saudaranya dan temannya tentang apa yang mereka lakukan di pondok dan apa yang pernah dipelajari. Namun, menurut salah satu santri, “peneliti hanya mau bicara sama teman dan keluarga peneliti tentang hal-hal agama kalau ditanyai  dulu.” Juga, ketika lulus dari pesantren, santri-santri sudah siap mulai berperan sebagai seorang alim yang ingin bekerja dengan masyarakat Islam untuk memperkuat dan menyebarkan agama Islam di Indonesia atau paling tidak “menjadi contoh”. Sekolah-sekolah pendidikan Islam “tidak hanya memberi
kontribusi pada perbaikan pendidikan Islam di Indonesia, melainkan juga pada proses santrinisasi masyarakat Muslim. Namun, peneliti merasa penting untuk menyebut di sini bahwa peran santri dalam proses kebangkitan Islam tersebut walaupun penting, juga terbatas dan beberapa macam fakta lain seperti keadaan  politik di Indonesia dan di arena internasional yang mempengaruhi perkembangan agama Islam di Indonesia.

Di atas peneliti sudah menarik  kesimpulan bahwa peran santri dalam masyarakat adalah sebagai salah satu bagian yang mempengaruhi proses kebangkitan Islam di Indonesia karena mereka mampu
menyampaikan pelajaran yang mereka dapatkan di pesantren untuk masyarakat. Sekarang, secara lebih spesifik, peneliti mau menyampaikan observasi peneliti mengenai peran santri dalam masyarakat lokal. Maksud penulis adalah masyarakat yang  menetap di desa Tegalrejo, yaitu, tetangga-tetangga pondok. Ternyata pada umumnya, hubungan di antara santri Asrama Perguruan Islam dan masyarakat yang menetap di sekeliling pesantren di desa Tegalrejo itu kurang. Pada umumnya, santri-santri jarang sekali keluar dari pondok pesantren dan akibatnya tidak begitu kenal dan kurang terlibat dalam kehidupan masyarakat lokal. Dari pandangan lain, masyarakat lokal juga kurang terlibat dalam urusan pondok pesantren.

Maka kenyataan ini membuat peneliti ingin tahu, mengapa begitu? Jawabannya cukup sederhana. Tujuan santri bukan untuk bergaul dengan tetangga-tetangga pondok atau bekerja untuk mempengaruhi pendapat masyarakat sehingga ada lebih banyak yang masuk agama Islam, tetapi untuk belajar dan memperdalam ilmu  ajaran Islam. Terletaknya pondok pesantren di tengah masyarakat  desa Tegalrejo tidak begitu mempengaruhi masyarakat tersebut  dan ternyata peran santri dalam masyarakat lokal desa Tegalrejo juga kurang penting. 


PERANAN KYAI
DALAM PENGEMBANGAN DA’WAH ISLAM
DI PONDOK PESANTREN ASRAMA PERGURUAN ISLAM

A. Riwayat Singkat KH. Chudlori

KH. Chudlori mendirikan Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam pada tanggal 15 September 1944. Beliau merupakan seorang ulama yang juga berasal dari desa Tegalrejo yang nyantri kurang lebih 19 tahun mulai tahun 1923 - 1942. Beliau adalah menantu dari KH. Dalhar pengasuh Pondok Pesantren ”Darus Salam” Watucongol Muntilan Magelang. KH. Chudlori mendirikan Pondok Pesantren di Tegalrejo pada awalnya tanpa memberikan nama sebagaimana layaknya Pondok Pesantren yang lain. Baru setelah berkalai-kali beliau mendapatkan  saran dan usulan dari rekan seperjuangannya pada tahun 1947 di tetapkanlah nama Asrama Perguruan Islam (API). Nama A.P.I sebagai pilihan beliau mungkin lain dengan nama pondok pesantren pada umumnya yang memakai bahasa arab sebagai dasarnya. Dipandang dari kepanjangannya yaitu Asrama Perguruan Islam sang Muassis (pendiri) mempunyai harapan agar nantinya Mutakhorrijin (alumni) betul-betul terdorong untuk menjadi guru ngaji, mungkin dengan kata lain kalimat perguruan adalah sebagai tafa’ul (harapan) dalam usaha mendidik kader pembina kehidupan beragama. Dengan kekuatan lahir batin sang muassis ingin mewujudkan harapannya diawali dari jenjang pelajaran, sisitem pendidikan, peraturan serta ditunjang dengan mujahadah dan riyadloh. Nama ini ditentukannya sendiri yang tentunya merupakan hasil dari sholat Istikharoh. Dengan lahirnya nama Asrama Perguruan Islam, beliau berharap agar para santrinya kelak di masyarakat mampu dan mau menjadi guruyang mengajarkan dan mengembangkan syariat-syariat Islam.

Adapun yang melatar belakangi berdirinya Asrama Perguruan Islam adalah adanya semangat jihad ”I’Lai kalimatillah” yang mengkristal dalam jiwa sang pendiri itu sendiri. Dimana kondisi masyarakat Tegalrejo pada waktu itu masih banyak yang bergelumuran dengan perbuatan-perbuatan syirik dan anti pati dengan tata nilai sosial yang Islami. Respon Masyarakat Tegalrejo atas didirikannya Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo pada waktu itu sangat memprihatinkan. Karena pada saat itu masyarakat masih kental dengan aliran kejawen. Tidak jarang mereka melakukan hal-hal yang negatif yang mengakibatkan berhentinya kegiatan ta’lim wa-taa’llum (kegiatan belajar-mengajar). Sebagai seorang ulama yang telah digembleng jiwanya bertahun-tahun di berbagai pesantren, KH.
Chudlori tetap tegar dalam menghadapi dan menangani segala hambatan dan tantangn yang datang.

Berkat ketegaran dan keuletan KH. Chudlori dalam upayanya mewujudkan Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam baik secara dhohirmaupun batin. Santri yang pada awal berdirinya hanya berjumlah delapan, tiga tahun kemudian sudah mencapai sekitar 100-an. Prestasi ini jika di identikan dengan prestasi para pendiri pondok pesantren dalam era kemajuan ini, barang kali biasa-biasa saja. Akan tetapi kalau melihat situasi serta kondisi serta sistem sosial yang berlaku pada saat itu sungguh prestasi KH. Chudlori merupakan prestasi yang lebih. Aksi negatif masyarakat seputar setelah tiga tahun API berdiri semakin mereda, bahkan diantara mereka yang semula anti pati ada yang berbalik total menjadi simpati dan ikhlas menjadi pendukung setia dengan mengorbankan segala dana dan daya  yang ada demi suksesnya perjuangan KH. Chudhori. Akan tetapi di luar dugaan dan perhitungan pada awal tahun 1948 secara mendadak API diserbu Belanda tepat pada “Kles II”. Gedung atau fisik API yang sudah ada pada waktu itu diporak porandakan. Sejumlah kitab termasuk Kitab milik KH. Chudhori dibakar hangus, sementara santrisantri termasuk KH.Chudhori mengungsi kesuatu desa yang bernama “Tejo kecamatan Candimulyo”. Kegiatan taklim wa-taalum nyaris terhenti.


Pada penghujung tahun 1949 dimana situasi nampak aman KH.Chudhori kembali mengadakan kegiatan taklim wa-taalum kepada masyarakat sekitar dan santripun mulai berdatangan terutama yang telah mendengar informasi bahwa situasi di Tegalrejo sudah normal kembali, sehingga KH.Chudhori mulai mendirikan kembali API lagi di temapt semula. Semenjak itulah API berkembang pesat seakan bebas dari hambatan, sehingga mulai tahun 1977 jumlah santri sudah mencapai sekitar 1500-an. Inilah puncak prestasi KH.Chudhori di dalam membawa API ke permukaan umat.


Mengingat bahwa Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam adalah pondok salaf maka KH. Chudlori tidak  menginginkan adanya budaya luar yang masuk, untuk mengantisipasinya maka KH. Chudlori merintis bersama pondok – pondok salaf yang ada dikaresidenan Kedu sebuah perkumpulan yang di sebut dengan Persatuan Pengasuh Pondok Pesantren Sekaresidenan Kedu (P4SK). 


PersatuanPengasuh Pondok Pesantren Sekaresidenan Kedu didirikan pada tahun 1972 yang anggotanya adalah alumni-alumni Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo.  Pondok Pesantren yang termasuk didalamnya adalah Pondok Pesantren Darunna’im di Lungge Temanggungyang didirikan oleh Kyai nawawi pada tahun 1973. Kyai nawawi adalah menantu dari KH. Chudlori dari putri istri Kedua yang bernama Siti Fatrukhah. Pondok Pesantren Nauulul Mana di Gondosuli Muntilan Magelang didirikan oleh Kyai Abdul Jabar pada tahun 1972. Beliau juga menantu KH. Chudlori dari putri istri pertama yang bernama Sitia Aisiyah. Para menantu tersebut adalah santri yang telah lama belajar di pondok pesantren Tegalrejo. Mereka tergolong santri yang cukup pandai dan menurut KH. Chudlori mereka sudah mampu untuk memimpin sebuah pesantren. Hal
ini merupakan salah satu cara KH.  Chudlori dalam mengembang luaskan pesantren. Seperti dikatakan oleh Zamakkhsyari Dhofier, bahwa para Kyai sering mengawinkan putrinya dengan santri yang pandai, terutama jika murid tersebut juga anak atau kerabat dekat dengan seorang Kyai, dengan tujuan agar nantinya santri tersebut dapat  menjadi pemimpin pesantren (Dhofier: 1984:25)

Dawam raharjo melukiskan bahwa KH. Chudlori sebagai pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo adalah merupakan ulama besar yang sangat berpengaruh dan memiliki kharisma yang sangat tinggi. Kharisma KH. Chudlori tidak hanya pada lingkungan pesantren saja tetapi juga di pesantren-pesantren lain diwilayah Magelang dan karesidenan Kedu. KH. Chudlori adalah seorang pendidik dan berwawasan luas, tetapi tetap mempertahankan cara pengajaran lama yaitu sistem sorogan dan bandongan dengan kitab-kitab kuning sebagai pedomannya.

Cara lama yang biasa dipakai di pesantren tradisional tersebut oleh KH. Chudlori dikembangkan sdemikian  rupa sehingga menjadi bentuk yang sangat unuk dan menarik. Hal ini oleh KH. Chudlori disusun secara cermat untuk mendidik dan mencetak calon Kyai yang menguasai ilmu agama secara benar. Jenjang pendidikannya dibagi  tujuh tingkatan yaitu dari tingkat ibtidaiyah yanga baru mengenal baca tulis al-quran dan pasholatan samapai tingkat Ihya yang menguasai secara lengkap ilmu aqidah, syari’ah, dan akhlak. Kitab-kitab sebagai materi  dan pegangan mengajar serta merode pengajarannya juga dirumuskan secara  cermat, bahkan sampai tata tertib kehidupan santri dan wirid-wirid tertentu juga ditetapkan untuk diamalkan oleh para santri.

Majlis mukmin yang pada awal berdirinya adalah wadah bagi para alumni merupakan usaha dari KH. Chudlori untuk terus membina walaupun tidak sesering di pesantren. Hal ini dilakukan agar para alumni di dalam
menyebarkan ilmunya di masyarakat tidak lepas dari apa yang telah diajarkan di pesantren Tegalrejo. Hal ini menunjukan bahwa perhatian KH. Chudlori kepada santrinya tidak hanya terbatas pada waktu masih belajar di pesantren saja, tetapi hubungan Kyai dengan para  alumninya tetap kuat bahkan lebih kuat ketika para alumni sudah terjun  ke masyarakat. Bagi Kyai Chudlori tindakan tersebut adalah sangat penting terutama untuk memantapkan jiwa alumni dalam mengembangkan ilmunya di masyarakat. Tanggung jawab Kyai sebagai pendidik tidak berhenti setelah selesainya proses belajar mengajar, begitu juga ikatan alumni sebagai anak didik. Dalam hal ini bukan sekedar  hubungan psikologis  dan keberkahan, tetapi ternya lebih diperhatikan aspek kelanjutan pendidikannya, bagaimana alumni itu bisa mengamalkan ilmunya dan menyebarkannya ke masyarakat.


Majils mukmin sebagai forum para alumni dilaksanakan setiap malam minggu kliwon, para alumni dari  berbagai daerah datang untuk menyampaikan laporan mereka yang  tentunya dibawah bimbingan KH. Chudlori.

Dari pengamatan KH. Chudlori, para alumni yang terjun kembali kemasyarakat menghadapi segala persoalan sosial, antara lain yaitu kedatangannya kembali sebagai santri bisa jadi asing bagai masyarakatanya, karena membawa misi dakwah Islam. Pelaksanaan misi itu bisa jadi menimbulkan persaingan dengan orang yang lebih dulu menjalankan misi di daerah tersebut. Hal ini lebih mungkin  terjadi apabila antara pengmban misi berasal dari pesantren yang berbeda yang masing-masing ingin memperoleh pengaruh yang lebih besar dari masyarakat.

Alkisah, sebagaimana dituturkan Gus Yusuf, suatu hari Kiai Chudlori didatangi beberapa orang  dari desa yang akan menanyakan persoalan yang dihadapi di tengah masyarakat. Orang-orang dari desa ingin pendapat Kiai Chudlori tentang masalah membangun masjid dahulu atau membeli perangkat gamelan. Sebab uang yang dimiliki hanya cukup untuk mengadakan salah satunya. Tentang kebimbangan ini, mereka mengadu ke Kiai Chudlori. Ternyata, Kiai Chudlori memilih agar  orang-orang desa membeli perangkat gamelan dulu dengan uang yang ada. Alasannya, dengan gamelan masyarakat akan bisa lebih bersatu, sementara  dalam membangun masjid pasti bisa dijalankan ketika masyarakat sudah  bersatu. Membangun masjid bisa dijalankan belakangan, toh sebelum masjid berdiri masing-masing warga bisa menunaikan ibadah shalat jamaah di langgar dekat mbelik/blumbang (kolam umum). Ayah peneliti ber-ijtihad seperti itu dengan alasan bahwa belum tentu dengan dibangun masjid dulu masyarakat akan bisa bersatu. Justru dengan gamelan masyarakat bisa berkumpul dan berkesenian untuk selanjutnya bisa berpikir tentang bagaimana membangun masjid setelah pikiran tenang berkat indahnya kesenian," tutur Gus Yusuf

 Adalah merupakan suratan taqdir, dimana pada saat Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam  sedang berkembang pesat dan melambung ke atas, KH.Chudhori dipanggil kerahmatullah (wafat), sehingga kegiatan taklim wataalum terpaksa diambil alih oleh putra sulungnya (KH. Abdurrohman Ch) dibantu oleh putra Keduanya (Bp. Achmad Muhammad Ch). Peristiwa yang mengaharukan  ini terjadi pada penghujung tahun 1977. KH. Chudlori meninggalkan putra dan  cucu yang nantinya akan menjadi penerus perjuangannya di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam diantaranya adalah: KH Abdurrahman, K Ahmad Muhammad (Gus Muh), KH Mudrik, KH Hanif, KH Haidar,  KH Noor Machin, KH Muhammad Yusuf (Gus Yusuf), KH Damanhuri (menantu), KH Nasrul Arif, KH Ahmad Izzuddin, K Hakimuddin, K Atho'illah dan K Asfa' Ubayu Ajzi. Sudah menjadi hal yang wajar  bahwa apabila  disuatu pondok pesantren terjadi pergantian pengasuh, grafik jumlah santri menurun.


Demikina juga API pada awal periode KH. Abdurrohman Ch jumlah santri menurun drastis, sehingga pada tahun 1980 tinggal sekitar 760-an. Akan tetapi nampak keuletan dan kegigihan KH.Chudhori telah diwariskan kepada KH. Abdurrohman Ch, sehingga jumlah santri bisa kembali meningkat sampai pada tahun 1992 menurut catatan sekretaris mencapai 2698 santri. Menurut pendataan terakhir pada tahun 2006 yang dilakukan oleh pengurus Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam jumlah santri telah mencapai 3500 santri.

B. Peran Kyai di dalam Pondok Pesantren

Dalam budaya pondok pesantren, seorang kyai memiliki berbagai macam peran, termasuk sebagai pengasuh pondok, guru dan pembimbing bagi para santri serta ayah dalam keluarganya sendiri yang juga menetap di pondok. Tugasnya sebagai pengasuh pondok  termasuk mencari dana bagi pondok, menghadapi santri baru dan mengerjakan urusan-urusan lembaga pesantren Asrama Perguruan Islam. Juga sebagai pengasuh, KH.Abdurachman Ch berjuang untuk perkembangan dan kemajuan pondok pesantrennya biar tidak ditinggalkan oleh kemajuan dalam masyarakat umum. KH. Abdurachman Ch memang mengambil sikap yang lapang dalam menyelenggarakan modernisasi pondok pesantrennya. Pada umumnya sangat positif mengenai keterampilan para kyai dalam “memperbarui sistem pendidikan pesantren tanpa meninggalkan aspek-aspek positif dari pada sistem pendidikan Islam tradisoinal” (Dhofier, 1985:174)

Selain dari perannya sebagai pengasuh pondok, peran kyai yang bisa disebut paling penting adalah sebagai guru dan pembimbing bagi para santri. Menurut salah satu santri, “peran kyai dalam pondok pesantran adalah untuk memberi motivasi kepada santrinya  dan membentuk putra-putri untuk menjadi anak yang sholeh dan sholehah dalam bidang keluarga dan bangsa.” Hubungan di antara kyai dan para  santri merupakan bagian yang penting sekali dalam peran kyai sebagai guru dan pembimbing. Keadaan dan suasana hubungan kyai dan santri memang berbeda di antara satu pondok dengan pondok lain karena hubungan tersebut sangat tergantung pada sikap kyai. Kalau belum mengalami sendiri budaya pondok pesantren, memang gampang untuk menarik kesimpulan bahwa walaupun lingkungan pondok sangat terbatas sehingga penghuni pondok selalu bertemu dan bergaul, oleh karena pesantren membentuk lembaga pendidikan resmi yang membina kehormatan tinggi untuk ustad, ustadah dan kyainya, hubungan di antara para guru tersebut dan muridnya akan sangat formal dan tidak begitu akrab. Namun, kenyataan yang ada di lapangan berbeda.

Dari pengalaman peneliti ketika melakukan penelitian di  ‘Asrama Perguruan Islam’, saya mengambil kesimpulan bahwa hubungan di antara KH.Abdurahman Chudlori dan para santrinya ternyata akrab. Alasan utama untuk kesimpulan tersebut adalah karena sifat dan metode pengajaran. Metode pengajaran yang diambil KH. Abdurachman Ch adalah metode yang keseimbangan. Yaitu, sambil menuntut standar tinggi dari santrinya dalam aspek baik pelajarannya maupun kehidupan sehari-hari di pondok, gaya pengajar KH. Abdurachman Ch tetap terbuka dan tenang. Misalnya, dalam pengajiannya, beliau sering membuat santri-santri tertawa dengan ceritanya dan juga kelasnya selalu interaktif. Ketika ditanyai, “apakah Pak Kyai pernah atau sering memarahi kamu?”, santri-santri langsung menjawab (sambil nyengir!), “tentu! Tetapi dia selalu adil.” Metode pengajaran ini membina
lingkungan pendidikan yang tenang dan nyaman dan juga membangunkan hubungan akrab di antara kyai dan para santri, tanpa meruntuhkan (atau merusak) wibawa kyai.

Maka, dapat kita lihat bahwa  sifat kyai sangat penting untuk menentukan suasana pondok pesantren  dan ternyata, di pondok pesantren Asrama Perguruan Islam, suasananya  tenang dan santai. Peran kyai sebagai pengurus pondok serta guru dan pembimbing para santri tidak membuat KH. Abdurachman Ch  melupakan perannya sebagai ayah. Oleh karena rumahnya terletak di dalam lingkungan pondok, tidak ada masalah dalam pembagian waktu antara tugas mengajar dan mengurus keluarga. 

C. Peran Kyai di luar Pondok Pesantren

Peranan Kyai di luar pondok pesantren itu sangat  tergantung pada prioritas setiap kyai. Misalnya, Pak Kyai Hashim Muzadi, pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Jawa  Tengah, memprioritaskan peran dan tugasnya sebagai ketua NU dari pada perannya sebagai kyai. Oleh karena kesibukan dengan tugas di luar pondok pesantren, dia jarang berada di PP Al Hikam, maka para Ustad bertanggung jawab untuk mengajar dan mendidik santrinya. Walaupun, keadaan di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo sangat berbeda karena K.H Abdurrahman Khudlori lebih mementingkan perannya di dalam pondok pesantren. Namun demikian, perannya di dalam masyarakat umum masih sangat penting. Menurut K.H Abdurrahman Khudlori, peran kyai dalam masyarakat umum adalah “untuk membantu masyarakat dalam kepentingan baik tingkat moral maupun material dan juga  untuk memberikan input ke dalam masyarakat.”  Maka beliau terlibat dalam macam-macam aspek kehidupan masyarakat, terutama bidang politik dan keagamaan.

Dalam bidang politik beliau anggota aktif dalam organisasi Nahdlutul Ulama (NU). Selama lima belas tahun (1980 – 1995) dia terlibat dalam urusan NU dengan kerjaannya sebagai Wakil Ketua serta Ketua NU MWC Tegalrejo Kabupaten Magelang dan  juga sebagai pengurus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Magelang sampai akhir tahun 2005. Pada tanggal 10 November 2006 KH.  Abdurachman Ch resmi menjabat sebagai pengurus Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) yang dibentuknya bersama kyai-kyai sepuh di pondok pesantren Langitan Tuban Jawa Timur. Pada Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa dia sejak dulu sudah seorang yang mempunyai peran penting dalam masyarakat lokal. 

Maka, dapat kita lihat bahwa sebelum diberi gelar kyai, seorang harus sudah memainkan peran dalam urusan masyarakat, dan peran tersebut memang tambah penting dan luas kalau sudah menjadi kyai. Peran lain yang dikerjakan adalah sebagai sesepuh dalam organisasi Persatuan Pengasuh Pondok Se-Karesidenan Kedu (P4SK). Organisasi ini merupakan perkembangan dari organisasi alumni santri Asrama Perguruan Islam. Tujuan dibetuknya Persatuan Pengasuh Pondok Pesantren Sekaresidenan Kedu adalah untuk mengadakan komunikasi antar sesama alumni agar para alumni tidak lupa kepada kyai dan almamaternya. Dalam perannya sebagai orang yang memberi input ke dalam masyarakat, KH. Abdurachman Ch sering diminta untuk memberikan pendapatnya tentang macam-macam hal. Misalnya, dia pernah diwawancarai oleh media lokal untuk majalah berita Al-Mihrab 2004. Dalam majalah tersebut diterbitkan artikel mengenai  biaya pendidikan di pondok pesantren lebih murah. 

Pendapat KH. Abdurachman Ch serta berberapa tokoh masyarakat lain diminta untuk artikel  tersebut. Juga, sering pendapat serta pikirannya diminta dalam surat kabar setempat bila ada event-event penting. Salah satu peran kyai dalam pondok pesantren adalah untuk memberi pengajian kepada santrinya. Pemberian  pengajian tersebut juga merupakan peran kyai di luar pondok pesantren. KH. Abdurachman Ch memimpin dua kelompok pengajian dengan laki-laki dan perempuan dari masyarakat lokal. Kelompok ini diikuti oleh ratusan  orang dan berkumpul sekali dalam seminggu di aula pondok pesantren untuk mendengarkan kata-kata dan penjelasan KH. Abdurachman Ch.

Dalam rangka meningkatkan dan memperluas dakwahnya, KH. Abdurachman Ch dalam setiap da’wah selalu  direkaman kemudian diputar melalui radio lokal. Dalam rekaman tersebut, beliau memberi pesan mengenai berbagai macam hal termasuk hal-hal politik, hal agam seperti shalat, dan syariah Islam. Dalam pesannya KH. Abdurachman Ch menganjurkan persatuan dan kedamaian di kalangan umat Islam. Ternyata KH. Abdurachman Ch memainkan peran penting baik di dalam maupun di luar pondok pesantrennya. Perannya di luar pondok pesantren dapat dilihat dari kegiatan-kegiatannya  dalam bidang politik dan urusan keagamaan masyarakat Muslim. Memang, bisa dikatakan bahwa pada
umumnya, kyai di Jawa merupakan jaringan tokoh masyarakat Indonesia yang sejak dulu memiliki peran penting, terutama dalam bidang politik dan agama. Dalam penelitian mengenai pandangan hidup kyai dalam buku, Tradisi Pesantren, disimpulan bahwa “sebagai suatu kelompok, para kyai memiliki pengaruh yang amat kuat di masyarakat Jawa dan merupakan kekuatan penting dalam kehidupan politik Indonesia” (Dhofier, 1985:56).


Secara rinci kegiatan yang rutin dilakukan oleh KH. Abdurachman Ch baik itu mingguan, bulanan bahkan tahunan diantaranya adalah :

1. Pengajian Senin 

Bertempat di Masjid Mujahidin Kauman Tegalrejo, tiap hari Senin pukul 10.00-12.00 Ponpes API mengadakan pengajian umum untuk warga luar ponpes yang diasuh oleh KH Abdurrahman Chudlori. Tiap pengajian Seninan ini dihadiri sekitar 1.000 orang dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, dan umur. Jika KH Abdurrahman Chudlori berhalangan mengisi pengajian,  Gus Muh yang mengisinya. Setiap pengajian direkam untuk disiarkan kembali oleh radio Fast FM 96.4 MHz.

2. Pengajian malam Ahad Kliwon

Sementara itu, tiap malam Ahad Kliwon pukul 20-00-23.00 bertempat di Pendopo Ponpes API Tegalrejo diadakan pengajian selapanan yang disi oleh KH Abdurrahman Chudlori. Peserta pengajian adalah para alumni Ponpes API dan para pengasuh ponpes di wilayah eks karesidenan Kedu yang tergabung dalam organisasi P4SK (Persatuan Pengasuk Pondok Pesantren se Karesidenan Kedu). Materi yang disampaikan bersifat kontekstual sebagai sarana komunikasi dan tukar informasi antar pengasuh pondok pesantren. Pengajian ini bersifat umum

3. Khataman bulan Sya'ban

Pada momen akhir tahun yang digelar tiap bulan Sya'ban (tanggal 5-13), menjelang khataman/akhirussanah, Ponpes API mengadakan serangkaian kegiatan, antara lain  musabaqah, pentas seni, khitanan massal, Pawiyatan Budaya Adat (PBA), arak-arakan kesenian, dan pengajian akbar sebagai acara wisuda santri yang telah lulus.

4. Pawiyatan Budaya Adat 

Pawiyatan Budaya Adat disingkat PBA adalah forum komunikasi antar kelompok kesenian tradisional (Jawa).  Setiap even khataman, Ponpes API selalu dihadiri oleh sekitar 200 kelompok seni tradisional dari berbagai daerah di pulau Jawa  untuk melakukan pentas di Lapangan Tegalrejo, depan rumah (ndalem) Gus Muh, dan tempat-tempat lapang di sekitar desa Tegalrejo. Bentuk kesenian tradisional yang dipentaskan meliputi jathilan, wayang kulit, kethoprak, wayang orang, kubro siswo, topeng ireng, lawak, ndayak'an, barongsai, lengger, reog, kuda lumping, druma band, campursari, dan band modern.

Mengingat banyaknya kelompok  kesenian yang pentas dan waktunya hanya selama 10 hari, maka 1 hari bisa berlangsung pentas 20 kelompok bersamaan di mana masing-masing kelompok mementaskan keseniannya di tempatnya masing-masing. Tanpa memperhatikan apakah ada yang menonton atau tidak, kelompok kesenian yang pentas dalam momentum khataman tetap pentas secara serius dan total dalam berakting. Kelompok kesenian yang datang dalam acara PBA dalam momen khataman antara lain berasal dari Magelang, Temanggung, Wonosobo, Salatiga, Banjarnegara, Kebumen, Yogyakarta, Sleman, Kulonprogo, Solo, Bandung, Banyumas, Purwokerto, Ponorogo, Tuban, Jombang, Tegal, dan Kendal.

Pada even kataman juga diadakan pasar rakyat yang menyediakan berbagai macam kebutuhan hidup bagi masyarakat kecil dan menengah.  Dengan harga mahal sampai murah, dari yang ditempatkan khusus hingga pinggir jalan, dari makanan kecil sampai pakaian, mainan sampai kebutuhan rumah tangga, dan hiburan pasar seni malam. Momentum khataman yang selalu  hadir pada bulan Sya'ban di Tegalrejo yang dikoordinir oleh Ponpes API menegaskan makna bahwa Ponpes API mempunyai kepedulian tinggi terhadap nafas kehidupan kesenian tradisional. Dalam sejarahnya, berdirinya Ponpes juga tak lepas dari kepedulian Kiai Chudlori dalam  menghidupi kesenian tradisional. 


Tegalrejo adalah salah satu kecamatan di wilayah Kabupaten MagelangJawa Tengah. Tegalrejo terkenal dengan PesantrenTegalrejo, yang cukup berpengaruh di wilayah Jawa Tengah. Selain Pesantren Tegalrejo masih ada Pesantren Tegalrandu dan Pesantren Kombangan.
Salah satu event tahunan di Tegalrejo adalah Khataman, yaitu pesta rakyat yang digelar setelah kenaikan kelas di pesantren. Khataman ini biasanya digelar sekitar 1 bulan sebelum bulan Ramadan. Pada acara khataman ini seni pertunjukan rakyat seperti Jathilan, Kubro Siswo, Wayang kulitKethoprak, Soreng, Kuntulan dan Badui digelar selama hampir seminggu penuh, di samping pengajian umum yang biasanya diisi oleh ulama-ulama besar di Jawa Tengah.

[sunting]Desa/kelurahan


  1. Banyusari
  2. Banyuurip
  3. Dawung
  4. Dlimas
  5. Donorojo
  6. Girirejo
  7. Glagahombo
  8. Japan
  9. Kebonagung
  10. Klopo
  11. Mangunrejo
  12. Ngadirejo
  13. Ngasem
  14. Purwodadi
  15. Purwosari
  16. Sidorejo
  17. Soroyudan
  18. Sukorejo
  19. Tampingan
  20. Tegalrejo
  21. Wonokerto


selamat datang pendengar fast fm di mana Anda berada....


Inilah blog terbaru milik Fast FM Family Radio Magelang.....
Radio milik keluarga.Jaringan luas.
Pendengar jelas.
Nyaman didengar, indah dirasa.
info selanjutnya hubungi 
" fastfm.magelang@yahoo.com "

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar